Hari ini bersama dengan kawan-kawan Komunitas Belajar Sabalad, kami menggelar Lapak Baca Gratis. Kegiatan ini hasil perbincangan kami dari Nujuhan kaca KA tilu belas. Diselenggarakan dari pukul 15.30 dan gulung lapak pukul 18.00 di Alun-alun Parigi. Rencana nya kegiatan ini akan kami gelar rutin dua Minggu sekali.



Meskipun berteman literasi, sebetulnya kegiatan ini hanya kedok, khususnya bagi saya. Tujuan utama kami adalah membiasakan memberi ruang temu dan baca bagi masyarakat sekitar Parigi. Selain itu, harapannya momentum ini menjadi titik diskusi yang dapat digelar secara santai tapi rutin.
Sore hari ini, selain saya, Dedi Supriatna, Adi Yasin dan Agus Saputra, kehangatan juga dilengkapi kehadiran Syamsul Arifin, Anton, Abah Didin Jentreng dan Putri. Perbincangan kami diwarnai dengan pembahasan budaya dan isu kekuasaan. Pemantik nya adalah pertanyaan dari kang Dedi “apakah lemahnya budaya ini adalah sesuatu yang terstruktur atau memang kondisi zaman semata?”.


Perbincangan bergulir seliar babi hutan yang diburu di kebun petani. Seruduk sana seruduk sini meski dibalut gelak tawa dan senyum nyinyir.
Pada akhirnya saya merasa senang berjumpa dengan kawan-kawan sabalad lagi sore ini. Ada optimisme untuk dapat ngawangkong lagi. Meski sekedar beradu Bako dan bertukar pikiran. Tapi semoga ini jadi upaya sederhana menghadirkan ruang kognisi publik di Parigi.






