Kategori
Tak Berkategori

Titi Pangarti

Malam ini, mendengar berbagai cerita. Dari kawan kawan ciamis. Aku yang dilanda kegundahan semacam dibelai sari pohaci. Kepala ku kembali kenyang, hatiku terasa tenang. Kondisi ini, terasa menyenangkan. Kegalauan ku tidak hilang. Tetapi kesenangan menyeruak dari dalam.

Jadi pendidikan itu apa? Penilaian itu apa? Bukankah kita dituntut untuk bijak bukan tamak? Aku masih belum selesai. Cita ku kembali bergejolak. Teduh ku sekarang mulai terlihat. Semoga kedepan aku tak sendiri dalam kegundahan. Karena tuhan selalu menemaniku melalui suara sapaan kawan kawan.

Kategori
Naskah

Siklus

Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Tidak relevan, tidak pula layak dipertahankan

Menjajah maupun dijajah tidak lah baik adanya

Kita merdeka atas diri dan fikiran kita

Sejenak adalah lama dalam fase yang berbeda

Lama pun begitu ambigu hingga kadar yang tak ditentukan

Namun penjajahan tetaplah tak bisa dibela

Lama atau sebentar tidak benar adanya

Kepadanya yang memberiku pemahaman terbuka

Kepadanya yang membebaskanku dari yang tak sepantasnya

Kuhaturkan terimakasih telah menjadikan

Sudah waktunya aku menjadikan dan membebaskan.

Kategori
Blog Opini Sudut Pandang

Guru “bukan” Tuhan

Sebagai seorang guru, adalah lumrah timeline gawai penuh dengan pidato mas mentri pendidikan, Nadiem Makariem. Di dalamnya, meski sederhana sangat bermakna bagi saya. Meskipun belum layak dipanggil guru, saya begitu terharu dengan pesan yang disampaikan mas mentri. Tanpa menafikan penghargaan dari mentri-mentri sebelumnya, saya sangat kagum dengan naskah pidatonya.

Intinya, Mas mentri secara tegas menyampaikan curhatan banyak guru yang biasanya hanya berujung di ruang curhat kantin sekolah. Saya merasa terharu, seolah isi hati saya dan ribuan guru menggema ke seluruh penjuru negeri.

Merdeka, adalah gagasan yang sudah lama tidak terasa di lembaga yang menyiapkan masa depan bangsa. Memang, merdeka kerap terdengar sebagai sebuah kata. Tapi pada praktiknya, pelajar di paksa memaknai merdeka secara terpenjara. Siang ini saya menulis 12 soal dari 40 soal yang harus saya siapkan untuk menilai kemampuan pemahaman siswa. Saya stuck pada akhirnya. ada tanya yang terngiang hingga saat ini (selain kebodohan) yang membuat pekerjaan itu terhenti.

Siapa saya? hingga layak menentukan seseorang itu pandai atau dungu.

Benar adanya, guru adalah sosok yang perlu di hormati. Betul memang, guru adalah orang yang berjasa bagi kita. Tetapi, untuk bilang (dalam bentuk angka) bahwa siswa itu mencapai dan tidak mencapai, saya ragu. Kenapa anak saya harus saya tentukan masa depannya? kenapa anak saya harus saya kekang kecerdasannya. Bukan hendak mengaburkan makna, tapi saya jelas jelas bertanya. Apakah guru bermakna tahu segalanya?.

Saya yakin bagi seorang pebisnis, investasi memiliki celah kerugian. Tetapi celah tersebut tidak menjadi alasan nya untuk tidak berinvestasi. Investasi tidak selalu tentang untung atau rugi. Investasi adalah mengukur untung “dan” rugi. Setiap anakku adalah investasi. Tidak hanya yang “katanya” pintar. SETIAP DARI MEREKA.

Maka, izinkan saya menyampaikan curahan hati, layaknya mas mentri yang sekarang mulai beraksi. Brother and sister, guru, pembelajar sepanjang hayat di seantero jagat. Jangan tinggalkan anak-anak kita di pojokan kelas. Jangan taruh mereka di depan kelas layaknya keledai yang layak tinggal kelas. Mari rangkul mereka. Mari peluk mereka. mari berinvestasi pada mereka. dengan penuh keyakinan. Mungkin tidak esok atau lusa, mungkin 50 tahun yang akan datang. Anak kita menjadi orang yang bisa merangkul semua kalangan. Menjadi manusia yang jauh lebih cerdas dari kita. Jauh lebih bijaksana dari kita. Jauh untung investasinya dari kita.

Selamat Hari Guru Nasional

Kategori
Blog Opini Sudut Pandang

Pendidikan Vokasi dan Perdamaian

Memanusiakan manusia sering terngiang dalam benak kita saat mendengar kata pendidikan. Manusia sebagai subjek sekaligus objek utama dalam pendidikan memerankan posisi utama. Pengembangan SDM yang humanis selalu menjadi dambaan kita. Perlu usaha bersama mewujudkan cita-cita bersama ini. Semua pihak perlu saling bekerja sama untuk merealisasikannya. Saya harap melalui tulisan ini, beberapa hal bisa saya sampaikan dalam memberikan sumbangsih gagasan dalam pengembangan pendidikan.

Perdamaian

Perdamaian dimulai dengan sebuah senyuman.

Bunda Teresa Biarawati Katolik Roma 

Sebagaimana kita pahami bersama, perdamaian merupakan kondisi ideal dari sebuah peradaban manusia. Saya kira, kita bisa sependapat bahwa kondisi damai adalah posisi paling nyaman bagi saya, anda atau siapapun. Tetapi sepertihalnya konsep lain dalam kehidupan sosial, damai memiliki kontra konsep. Konflik bagi saya adalah konsep yang tepat untuk mengisi posisi kontra bagi damai.

Peace is when people are able to resolve their conflicts without violence and can work together to improve the quality of their lives

www.international-alert.org

Maka secara konseptual, perdamaian tidak bisa ada tanpa adanya konsep konflik. Dalam pengalaman penulis, konflik menjadi salah satu hal yang perlu dikelola dengan baik, bukan ditiadakan. Mengacu pada konsep yang ditawarkan diatas, maka konsep damai adalah penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Jika demikian, konflik merupakan hal yang mesti adanya dalam konsep perdamaian. Karena tanpa hadirnya konflik, perdamian tidak dapat tercipta.

Maka kesadaran atas hadirnya konflik adalah sebuah prasyarat awal dalam kemampuan manusia menciptakan perdamaian. Secara sederhana, bisa disampaikan bahwa, kita tidak dapat menciptakan damai jika kita tidak memahami apa yang perlu didamaikan.

Konflik ini dapat hadir dalam berbagai bentuk. Konflik kepentingan hadir dari kebutuhan manusia yang saling mengalahkan satu sama lain. Maka menyelesaikan konflik kepentingan adalah dengan mencari irisan kepentingan yang sama satu sama lain. Konflik batin dalam diri kita dapat terselesaikan dengan pemahaman yang menyeluruh dari kebutuhan kita dan menyelesaikan satu persatu kebutuhan yang ada.

Maka dalam konflik, kesadaran kita atas konflik yang terjadi menjadi penting untuk dimiliki. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menyadari konflik yang terjadi di lingkungan?

Melatih kesadaran

Sepertihalnya kemampuan berjalan, kesadaran adalah kemampuan yang dapat kita latih untuk dapat tetap sadar dalam berbagai kondisi. Latihan latihan yang bisa dilakukan diantaranya adalah melakukan analisa situasi.

: to separate (a material or abstract entity) into constituent parts or elements; determine the elements or essential features of
:to analyze an argument.to examine critically, so as to bring out the essential elements or give the essence of
:to analyze a poem.to examine carefully and in detail so as to identify causes, key factors, possible results, etc.

www.dictionary.com/

Analisa sebagai sebuah kemampuan dasar untuk menciptakan kesadaran dapat kita artikan sebagai kemampuan untuk memilah bagian bagian, memeriksa secara kritis, serta membaca detail detail yang dapat membantu kita melihat penyebab, faktor kunci atau kemungkinan hasil yang tercipta dari sebuah kondisi.

Maka untuk memulai melahirkan kesadaran, memampuan untuk menganalisa kondisi/situasi menjadi penting. Cobalah mulai dengan mengkategorikan konflik yang ada. Siapa yang terlibat, bagaimana konflik itu berlangsung, konteks seperti apa yang terjadi.

Salah satu cara untuk dapat menganalisa secara objektif kemudian dapat dilakukan dengan berbagai hal. Anda dapat memulai dengan berdiskusi dengan orang orang yang terkait pada konflik tersebut. Ajukan pertanyaan pertanyaan yang dapat memicu jawaban dari subjek konflik. Selanjutnya pilah ulang, hal hal yang anda temukan.

Membuka Fikiran

Satu satunya hal yang pasti dalam ilmu pengetahuan adalah ilmu pengetahuan memiliki kemungkinan salah

Ai Nurhidayat (dalam sebuah diskusi)

konsep diatas tentunya sering digaungkan banyak pihak. Konsep membuka fikiran bagi saya sangat erat kaitannya dengan ungkapan Ai. Dengan membuka peluang kesalahan, kita menjadi tidak keukeuh dengan kebenaran absolut dari fikiran kita. Membuka fikiran yang dimaksud bukan berarti kemudian menegasikan pandangan orang yang tertutup. Membuka fikiran justru memberikan kesempatan setiap orang memiliki 2 kemungkinan. Benar dan Salah. Dengan memberikan kesempatan orang untuk memiliki kebenaran, kita dapat membuka peluang melihat kondisi dari berbagai sudut.

Banyak hal lain yang mungkin akan saya bahas dalam tulisan lain mengenai usaha menciptakan kesadaran ini. Dalam tulisan ini saya cukupkan sementara pembahasan ini dan melaju pada pembahasan selanjutnya.

Pendidikan Vokasi

Tanpa menafikan model pendidikan lain, saya sangat berharap tulisan ini dapat menggambarkan pendidikan vokasi sebagai sentral penciptaan kondisi damai. Pendidikan vokasi bagi saya memiliki peranan penting. Dalam kelas sosial, Buruh sebagai pelaku utama dalam proses produksi barang (apapun) menjadi kelas dengan SDM paling banyak. Sehingga memiliki persentase besar dalam menentukan kondisi di masyarakat.

Vocational education is education that prepares people to work as a technician or in various jobs such as a trade or a craft.

https://wikipedia.org/

Dari definisi sederhana di atas, pendidikan vokasi menyiapkan manusia sebagai pihak teknis dalam penggarapan produk. Dengan jumlah yang banyak, bagi saya, karyawan ini yang akan sangat sering bersinggungan dengan konflik. Selama ini, calon karyawan selalu diidentikan dengan kamampuan teknis semata. Mengikuti instruksi, menggunakan tools dengan tepat serta kemampuan teknis lainnya. Tetapi sesungguhnya, dnegan menyiapkan SDM yang memiliki kesadaran pendamai, pendidikan dapat memenuhi hasrat manusia menciptakan kondisi damai.

Kelas Multikultural

Pemikiran di atas sesungguhnya lahir saat saya menjadi pengajar dan pengelola dalam program kelas multikultural. Anda dapat melihat definisi dan profile kelas multikultural ini dalam web https://www.kelasmultikultural.org/ dan https://www.sbk.sch.id/ . Dalam tulisan ini, saya hanya akan sampaikan intisari dari pengalaman saya.

Kelas multikultural sendiri diselenggarakan di SMK Bakti Karya Parigi. Konsep utamanya adalah mempertemukan satu kebudayaan dengan kebudayaan lain. Dari temuan saya, peserta didik saat bertemu kebudayaan berbeda sebetulnya sedang menghadapi konflik yang sangat mudah terdeteksi. Pembiasaan pertemuan konflik ini yang kemudian memberikan waktu peserta didik untuk dapat menyadari lalu menyelesaikan konflik. Tentu perbedaan ini dapat lahir dalam kondisi homogen. Perbedaan kebudayaan yang kontras hanya mempertajam kesadaran siswa bahwa lingkungannya sangat berpotensi konflik.

Inilah yang, bagi saya, pending diusahakan oleh berbagai lembaga pendidikan vokasional. Memaksa siswa untuk menyadari bahwa lingkungan apapun memiliki potensi konflik. Latihan untuk menganalisa menjadi sangat mudah dilakukan karena siswa berhadapan dengan potensi konflik yang nyata. Sehingga siswa perlahan dapat lebih peka dengan potensi konflik di lingkungannya.

Metode yang digunakan pun menjadi sangat mudah dilakukan. karena perbedaan sudut pandang dapat menjadi referensi yang kuat untuk dapat melihak sebuah kondisi dari berbagai sudut pandang.

Tentunya kondisi semacam ini perlu disesuaikan dalam berbagai konteks. bagi saya, semua sekolah memiliki potensi untuk menjalankan pendidikan perdamaian. Kelas multikultural hanya mempermudah konteks dengan menghadirkan simulasi keberagaman yang nyata. Sekolah lain, dapat menjalankan dengan caranya masing masing. Tujuan utamanya tetap. Menciptakan kondisi yang memacu siswa untuk melatih kesadarannya atas konflik yang mungkin terjadi.

Saya membayangkan suatu saat nanti, dalam kondisi apapun, ketika ada karyawan yang terlibat permasalahan baik dengan karyawan lain, pihak perusahaan atau stake holder lain, dirinya dapat menganalisa dengan penuh kesadaran, siapa sumber konflik, bagaimana penyelesaian nya, dan apa yang dapat dipelajari karena sudah terbiasa dengan proses tadi di sekolahnya.

Kalau anda?

Komentar di bawah ya !

Kategori
Tak Berkategori

RECYCLE MELAWAN SERAGAM

Dalam sekolah, kami adalah subjek utama. Tanpa kami, sekolah hanyalah sekomplek gedung kosong layaknya gudang atau rumah hantu. Meski demikian, kami tak selalu butuh sekolah. Karena belajar tidak harus duduk berbaris menghadap satu dinding yang disebut depan.