Kategori
Blog

Alasan bapak-bapak main berkedok Lapak Baca Gratis

Hari ini bersama dengan kawan-kawan Komunitas Belajar Sabalad, kami menggelar Lapak Baca Gratis. Kegiatan ini hasil perbincangan kami dari Nujuhan kaca KA tilu belas. Diselenggarakan dari pukul 15.30 dan gulung lapak pukul 18.00 di Alun-alun Parigi. Rencana nya kegiatan ini akan kami gelar rutin dua Minggu sekali.

Meskipun berteman literasi, sebetulnya kegiatan ini hanya kedok, khususnya bagi saya. Tujuan utama kami adalah membiasakan memberi ruang temu dan baca bagi masyarakat sekitar Parigi. Selain itu, harapannya momentum ini menjadi titik diskusi yang dapat digelar secara santai tapi rutin.

Sore hari ini, selain saya, Dedi Supriatna, Adi Yasin dan Agus Saputra, kehangatan juga dilengkapi kehadiran Syamsul Arifin, Anton, Abah Didin Jentreng dan Putri. Perbincangan kami diwarnai dengan pembahasan budaya dan isu kekuasaan. Pemantik nya adalah pertanyaan dari kang Dedi “apakah lemahnya budaya ini adalah sesuatu yang terstruktur atau memang kondisi zaman semata?”.

Perbincangan bergulir seliar babi hutan yang diburu di kebun petani. Seruduk sana seruduk sini meski dibalut gelak tawa dan senyum nyinyir.

Pada akhirnya saya merasa senang berjumpa dengan kawan-kawan sabalad lagi sore ini. Ada optimisme untuk dapat ngawangkong lagi. Meski sekedar beradu Bako dan bertukar pikiran. Tapi semoga ini jadi upaya sederhana menghadirkan ruang kognisi publik di Parigi.

Kategori
Blog

Keresahan hanya butuh perjumpaan

Pasca lengsernya saya dari posisi kepala sekolah, banyak hal yang mulai saya pikirkan. Selain urusan perut dan dapur rumah tangga, urusan kontribusi komunal pun kini jadi bahan pikiran. Mungkin karena sudah beberapa hari ini saya tidak mengkonsumsi obat. Rasanya ada banyak hal yang ingin saya lakukan.

Sementara saya menghibahkan sebagian kecil waktu tetap di Bakti Karya, saya mulai menyusun langkah apa yang hendak saya lakukan. Beruntung di tengah kegundahan ini, saya diperkenankan mendampingi rekan-rekan STITNU Al Farabi untuk mengelola majalahnya. Selama 5 hari saya menghabiskan waktu pagi hari bertemu dengan mahasiswa yang punya semangat tinggi.

Di tengah kesibukan itu, saya mencoba memetakan peran lain. Beruntung kawan menawarkan melaksanakan bedah buku. Katanya beliau hendak membawa penulis ke Pangandaran untuk berbagi cerita bukunya. Melalui koordinasi singkat, kegiatan itu akhirnya siap dilaksanakan.

Entah kenapa saya masih tak puas. Kembali beruntung, rekan Forum TBM berkenan untuk berjumpa. Kami akhirnya bercerita banyak hal. Ide dan keresahan pun akhirnya kami adu. Dan semoga pertukaran serasa ini bisa berlanjut pada aksi nyata yang dapat mengisi ruang kosong dan kesempatan di masa yang akan datang.

Semoga pula Minggu depan, saya dapat mempertegas peran saya di tempat lain. Karena masih ada hidup yang harus saya ini, masih ada tanah yang harus dipijaki.

Kategori
Tak Berkategori

Titi Pangarti

Malam ini, mendengar berbagai cerita. Dari kawan kawan ciamis. Aku yang dilanda kegundahan semacam dibelai sari pohaci. Kepala ku kembali kenyang, hatiku terasa tenang. Kondisi ini, terasa menyenangkan. Kegalauan ku tidak hilang. Tetapi kesenangan menyeruak dari dalam.

Jadi pendidikan itu apa? Penilaian itu apa? Bukankah kita dituntut untuk bijak bukan tamak? Aku masih belum selesai. Cita ku kembali bergejolak. Teduh ku sekarang mulai terlihat. Semoga kedepan aku tak sendiri dalam kegundahan. Karena tuhan selalu menemaniku melalui suara sapaan kawan kawan.

Kategori
Naskah

Siklus

Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Tidak relevan, tidak pula layak dipertahankan

Menjajah maupun dijajah tidak lah baik adanya

Kita merdeka atas diri dan fikiran kita

Sejenak adalah lama dalam fase yang berbeda

Lama pun begitu ambigu hingga kadar yang tak ditentukan

Namun penjajahan tetaplah tak bisa dibela

Lama atau sebentar tidak benar adanya

Kepadanya yang memberiku pemahaman terbuka

Kepadanya yang membebaskanku dari yang tak sepantasnya

Kuhaturkan terimakasih telah menjadikan

Sudah waktunya aku menjadikan dan membebaskan.

Kategori
Blog Opini Sudut Pandang

Guru “bukan” Tuhan

Sebagai seorang guru, adalah lumrah timeline gawai penuh dengan pidato mas mentri pendidikan, Nadiem Makariem. Di dalamnya, meski sederhana sangat bermakna bagi saya. Meskipun belum layak dipanggil guru, saya begitu terharu dengan pesan yang disampaikan mas mentri. Tanpa menafikan penghargaan dari mentri-mentri sebelumnya, saya sangat kagum dengan naskah pidatonya.

Intinya, Mas mentri secara tegas menyampaikan curhatan banyak guru yang biasanya hanya berujung di ruang curhat kantin sekolah. Saya merasa terharu, seolah isi hati saya dan ribuan guru menggema ke seluruh penjuru negeri.

Merdeka, adalah gagasan yang sudah lama tidak terasa di lembaga yang menyiapkan masa depan bangsa. Memang, merdeka kerap terdengar sebagai sebuah kata. Tapi pada praktiknya, pelajar di paksa memaknai merdeka secara terpenjara. Siang ini saya menulis 12 soal dari 40 soal yang harus saya siapkan untuk menilai kemampuan pemahaman siswa. Saya stuck pada akhirnya. ada tanya yang terngiang hingga saat ini (selain kebodohan) yang membuat pekerjaan itu terhenti.

Siapa saya? hingga layak menentukan seseorang itu pandai atau dungu.

Benar adanya, guru adalah sosok yang perlu di hormati. Betul memang, guru adalah orang yang berjasa bagi kita. Tetapi, untuk bilang (dalam bentuk angka) bahwa siswa itu mencapai dan tidak mencapai, saya ragu. Kenapa anak saya harus saya tentukan masa depannya? kenapa anak saya harus saya kekang kecerdasannya. Bukan hendak mengaburkan makna, tapi saya jelas jelas bertanya. Apakah guru bermakna tahu segalanya?.

Saya yakin bagi seorang pebisnis, investasi memiliki celah kerugian. Tetapi celah tersebut tidak menjadi alasan nya untuk tidak berinvestasi. Investasi tidak selalu tentang untung atau rugi. Investasi adalah mengukur untung “dan” rugi. Setiap anakku adalah investasi. Tidak hanya yang “katanya” pintar. SETIAP DARI MEREKA.

Maka, izinkan saya menyampaikan curahan hati, layaknya mas mentri yang sekarang mulai beraksi. Brother and sister, guru, pembelajar sepanjang hayat di seantero jagat. Jangan tinggalkan anak-anak kita di pojokan kelas. Jangan taruh mereka di depan kelas layaknya keledai yang layak tinggal kelas. Mari rangkul mereka. Mari peluk mereka. mari berinvestasi pada mereka. dengan penuh keyakinan. Mungkin tidak esok atau lusa, mungkin 50 tahun yang akan datang. Anak kita menjadi orang yang bisa merangkul semua kalangan. Menjadi manusia yang jauh lebih cerdas dari kita. Jauh lebih bijaksana dari kita. Jauh untung investasinya dari kita.

Selamat Hari Guru Nasional

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai